Review Anime Planetes. Di awal 2026, ketika proyek luar angkasa swasta semakin masif dan sampah antariksa menjadi isu nyata yang dibahas di konferensi internasional, Planetes kembali muncul sebagai salah satu anime paling relevan dari era 2000-an. Dirilis pada 2003 dengan 26 episode, seri ini mengambil latar tahun 2075 dan mengikuti kehidupan sehari-hari tim pembersih puing luar angkasa yang bekerja di orbit Bumi. Cerita berfokus pada Hachimaki, Tanabe, Yuri, Fee, dan rekan-rekan mereka di perusahaan Debris Section—bagian terendah dalam hierarki industri antariksa. Meski sudah lebih dari dua dekade, anime ini terasa seperti dokumenter futuristik yang memprediksi banyak hal tentang eksplorasi ruang angkasa, ketimpangan sosial, dan risiko pekerjaan berbahaya di orbit. Banyak penonton yang melakukan rewatch belakangan ini merasa ceritanya tidak hanya bertahan waktu, tapi justru semakin tajam. BERITA BASKET
Sinopsis dan Struktur Cerita: Review Anime Planetes
Planetes dibagi menjadi dua bagian utama yang berbeda nuansa. Bagian pertama lebih ringan dan episodik, menampilkan kehidupan sehari-hari tim Debris Section saat mereka mengumpulkan puing-puing satelit tua, puing roket, dan pecahan pesawat luar angkasa yang mengancam stasiun ISS. Setiap episode sering dimulai dengan insiden kecil—seperti mengejar puing berbahaya atau menyelamatkan rekan yang tersesat—lalu berkembang menjadi cerita manusiawi tentang hubungan, trauma, dan motivasi pribadi. Bagian kedua berubah drastis: lebih serius, politik, dan mendalam, dengan konflik besar yang melibatkan terorisme antariksa, proyek koloni bulan, dan pertanyaan tentang siapa yang benar-benar menguasai ruang angkasa. Struktur ini sengaja dibuat untuk menunjukkan transisi dari pekerjaan “rendah” yang diremehkan menjadi pusat konflik global. Pacing-nya lambat tapi terasa alami, seperti rutinitas kerja nyata, dan itulah yang membuat penonton merasa benar-benar berada di sana bersama karakternya.
Tema Realisme, Ketimpangan Sosial, dan Makna Hidup: Review Anime Planetes
Kekuatan terbesar Planetes terletak pada realisme yang jarang ditemui di anime sci-fi. Ruang angkasa digambarkan bukan sebagai tempat romantis penuh petualangan, melainkan lingkungan kerja keras, berbahaya, dan sering membosankan. Karakter bekerja dengan gaji pas-pasan, menghadapi risiko radiasi, kekurangan oksigen, dan puing yang bisa menghancurkan pesawat dalam sekejap. Anime ini juga tajam mengkritik ketimpangan: Debris Section adalah “sampah” perusahaan, sementara astronot elit dan eksekutif korporasi menikmati kemewahan. Tema ini diperkuat melalui karakter seperti Hachimaki yang terobsesi “mencapai mimpi besar” tapi perlahan menyadari bahwa kebahagiaan sering ada di hal-hal kecil, atau Yuri yang berjuang melewati trauma kehilangan istri akibat puing antariksa. Planetes tidak memberikan jawaban mudah tentang makna hidup, tapi justru menunjukkan bahwa di tengah ambisi besar manusia, nilai terbesar sering terletak pada hubungan antarmanusia dan tanggung jawab terhadap apa yang kita tinggalkan di orbit.
Visual, Animasi, dan Produksi
Produksi Sunrise saat itu terasa sangat ambisius untuk genre hard sci-fi. Desain pesawat, stasiun luar angkasa, dan gerakan zero-gravity sangat akurat secara fisika—banyak yang memuji bagaimana anime ini menghormati hukum Newton dan realitas orbital. Palet warna didominasi biru gelap, abu-abu logam, dan kilau matahari yang kontras, menciptakan atmosfer dingin tapi indah dari ruang angkasa. Adegan aksi, terutama saat menangkap puing atau menghindari tabrakan, terasa tegang karena minim dramatisasi berlebihan. Desain karakter sederhana tapi ekspresif, membuat setiap ekspresi wajah terasa autentik. Musiknya mendukung sempurna: opening “Dive in the Sky” energik, ending “Wonderful Life” yang melankolis, serta soundtrack ambient yang memperkuat rasa kesunyian luar angkasa. Secara keseluruhan, produksi terasa timeless—bahkan setelah 23 tahun, visualnya masih terlihat modern dan meyakinkan.
Kesimpulan
Planetes adalah anime yang langka: menggabungkan slice-of-life, drama kerja, dan sci-fi keras tanpa kehilangan keseimbangan. Ia tidak menawarkan aksi tanpa henti atau plot twist bombastis, tapi justru karena itu terasa begitu manusiawi dan jujur. Di tahun 2026, ketika sampah antariksa sudah menjadi ancaman serius dan perusahaan swasta mulai mendominasi orbit, seri ini terasa seperti peringatan sekaligus penghargaan terhadap orang-orang yang bekerja di balik layar. Bagi yang menyukai cerita tentang kehidupan nyata di dunia futuristik—seperti karya-karya realistis lain dalam genre ini—Planetes tetap jadi salah satu yang terbaik. Setelah menonton, kamu mungkin akan memandang langit malam dengan sedikit rasa hormat lebih besar terhadap pekerjaan tak terlihat yang menjaga orbit tetap aman. Ini bukan anime tentang menaklukkan angkasa, melainkan tentang bertahan hidup di dalamnya—dan itulah yang membuatnya abadi.