Review Anime Run with the Wind. Di akhir 2025, Run with the Wind semakin populer kembali seiring musim lari jarak jauh dan peringatan Hakone Ekiden tahunan pada Januari mendatang. Anime 23 episode yang tayang 2018-2019 ini mengikuti Kakeru Kurahara, mantan pelari elit yang trauma, dan Haiji Kiyose yang ambisius, beserta delapan teman sekamar di asrama Chikusei-so yang dipaksa bentuk tim untuk ikut Hakone Ekiden—relay marathon universitas bergengsi. Dengan akses streaming lebih mudah dan diskusi ulang di komunitas, seri ini tetap jadi pilihan favorit bagi yang suka anime sports dewasa, fokus pada growth pribadi dan kekuatan tim di tengah tren olahraga hype. BERITA BOLA
Alur Cerita dan Karakter yang Mendalam: Review Anime Run with the Wind
Run with the Wind unggul lewat narasi realistis tentang sepuluh pemuda biasa yang tak semuanya atlet, tapi dipersatukan mimpi Haiji ikut Hakone Ekiden. Kakeru mulai antipati lari karena masa lalu, tapi perlahan temukan arti baru bersama tim—dari Prince si otaku malas, Shindo si pemalu, hingga twins Yuki dan Jo yang kompetitif. Setiap karakter punya arc sendiri: latihan keras, cedera, konflik internal, dan momen breakthrough saat race qualifier hingga Hakone sungguhan. Tema “apa arti berlari” dieksplorasi dalam, bikin penonton relate dengan perjuangan dewasa muda cari tujuan hidup, tanpa drama berlebih tapi penuh emosi earned.
Kekuatan Visual dan Atmosfer yang Menyegarkan: Review Anime Run with the Wind
Animasi Run with the Wind memukau dengan detail lari jarak jauh—napas ngos-ngosan, langkah kaki di tanjakan curam Hakone, hingga pemandangan musim berganti yang indah. Adegan race intens dengan perspektif runner, efek angin dan keringat realistis, ditambah soundtrack calming tapi pump-up saat klimaks. Humor ringan dari kehidupan asrama balance drama, bikin suasana cozy meski tema serius soal ketekunan dan batas fisik. Ini beda dari anime sports cepat, lebih fokus sensasi “runner’s high” dan kedamaian setelah capai garis finish.
Kritik dan Nilai yang Abadi
Meski dipuji, Run with the Wind kadang dikritik pacing lambat di awal—banyak episode latihan dan buildup karakter sebelum race besar. Beberapa penonton anggap kurang hype dibanding anime olahraga action-packed, dengan fokus ensemble bikin progres individu terasa gradual. Elemen cedera dan tekanan Hakone Ekiden tunjuk sisi gelap olahraga kompetitif, tapi justru tambah kedalaman. Bagi yang suka cerita grounded tanpa superpower, ini plus besar—meski butuh kesabaran, reward akhirnya memuaskan.
Kesimpulan
Pada akhir 2025, Run with the Wind tetap jadi anime sports paling heartfelt dan inspiratif, cocok direwatch saat musim Hakone Ekiden tiba. Ia ajarkan bahwa lari—dan hidup—bukan soal cepat menang, tapi temukan kekuatan bersama dan arti pribadi di balik setiap langkah. Dengan karakter relatable dan pesan motivasi kuat, ini rekomendasi utama buat pecinta drama dewasa atau yang butuh dorongan capai tujuan. Legacy-nya abadi, bukti anime bagus tak perlu sekuel untuk terus sentuh hati penonton baru.